Forest Guardian Indonesia
Filosofi logo
Tajuk Bersama
Sebatang pohon yang setiap bagiannya menyimpan sejarah Forest Guardian Indonesia: dari mana ia berakar, siapa yang menumbuhkannya kembali, dan untuk apa ia berdiri.
40 helai daun
Empat puluh anak muda angkatan pertama Forest Guardian, 2023. Tiap helai berbeda arah dan rona, tetapi bersama membentuk satu tajuk: gerakan kolektif, bukan milik satu orang.
Tiga cabang
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu, tiga daerah yang pada Juni 2026 sepakat menghidupkan kembali FGI. Dari tiga cabang inilah seluruh tajuk kini ditopang.
Empat akar
Empat provinsi di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat tempat FGI berasal: Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Akar tidak terlihat dari jauh, tetapi di sanalah pohon berpegang.
Satu batang yang tegak
Batang yang berdiri sendiri tanpa penyangga: FGI yang independen, dikelola sukarela oleh anak muda, tanpa induk dan tanpa pendanaan. Pangkalnya melebar karena berpijak kuat di tanah sendiri.
Satu daun emas di pucuk
Tunas pertama setelah masa gugur. Ia menandai kebangkitan Juni 2026 sekaligus suara kritis yang berani tampil beda di antara yang lain.
Ujung yang runcing, tajuk yang terbuka
Setiap daun berujung runcing: kritik yang tajam, gamblang, dan jujur. Tajuknya tidak dikurung bingkai, sebab hutan dan ruang hidup adalah milik bersama yang harus ditata dengan adil.
Sejarah dalam satu pohon
Berakar, gugur, lalu tumbuh kembali
2023
Berakar
Lahir dari program Forest Guardian: Kaum Muda Jaga Hutan. Empat puluh anak muda dari empat provinsi di sekitar Kerinci Seblat belajar memantau hutan dan berkampanye di daerahnya.
2025
Gugur
Setelah deklarasi kaum muda di Bengkulu, program berhenti. Kegiatan bubar di tengah jalan dan daun-daun berguguran, tetapi batang dan akarnya tidak mati.
JUNI 2026
Tumbuh kembali
Tiga daerah menghidupkannya lagi sebagai gerakan kolektif yang independen dan sukarela. Tajuk kembali penuh, kali ini tumbuh dengan tenaga sendiri.
Foto profil media
sosial
Warna dan huruf